2 Cara Menentukan Harga Jual Berdasarkan Biaya Produksi Yang Benar

  • Whatsapp
cara menentukan harga jual berdasarkan biaya produksi
cara menentukan harga jual berdasarkan biaya produksi

Cara menentukan harga jual berdasarkan biaya produksi adalah hal yang sulit bagi seseorang yang baru memulai berbisnis. Jangan khawatir, karena kali ini saya akan berbagi tips cara menghitung harga jual yang benar.

Sebagian orang mungkin mengira bahwa menentukan harga jual itu hal yang mudah, dan pada akhirnya mereka hanya berangan-angan. Tapi pada kenyataannya kita tidak bisa sembarangan membuat harga jual begitu saja. Tetap harus ada perhitungan yang benar.

Jadi rumus dasar dari penentuan harga jual adalah HPPOpex (operational expense) + Mex (marketing expense)Keuntungan. Pada dasarnya hanyalah seperti ini, tapi kembali lagi ke model bisnis kita. Maksudnya gimana sih? Okee okee mari saya jelaskan dengan baik agar semua mudah untuk memahami.

Menurut saya pribadi bisnis itu akan dibagi menjadi 2 jenis, yang pertama ada B2C (Business to Customer) dan B2B (Business to Business). Penentuan harga di model B2C ini akan berbeda dengan B2B, yang manakah kalian?

Pendekatan atau metodenya mungkin mirip-mirip, tapi masih berbeda.

Cara Menentukan Harga Jual Berdasarkan Biaya Produksi

Langsung saja, sebelum lebih lanjut kalian harus sudah bisa menjawab pertanyaan saya tentang B2C dan B2B. Saya beri contoh saja agar mudah untuk memahami.

Contoh Bisnis B2C

Bisnis B2C ini intinya adalah bisnis retail atau ecer, dimana kita bisa bertindak entah sebagai produsen atau hanya reseller, yang menjual ke pasar retail. Contoh misal kalian ada yang memiliki pabrik meja dan kursi, lalu kalian memasang dan menjual di salah satu marketplace retail. Maka bisa kita bisa tahu bahwa bisnis kalian adalah B2C.

Di bisnis B2C ini si perusahaan akan langsung berhubungan dengan para “pemakai”nya, seperti meja dan kursi tadi.

Contoh saja seperti pemilik toko online di sebuah marketplace

Tidak seperti bisnis dengan model B2B.

Contoh Bisnis B2B

Di bisnis B2B ini si perusahaan akan berurusan dengan usaha lainnya, jadi mereka tidak langsung berurusan dengan para retail buyer atau para pemakai.

Misalkan di perusahaan yang sama, meja dan kursi, di bisnis B2C tadi mereka akan langsung berhubungan dengan customer pemakainya. Tapi jika di B2B, si perusahaan akan berhubungan dengan perusahaan lainnya seperti; toko meubel, reseller meja dan kursi, dropshipper, dan sebagainya.

Salah satu ciri bisnis B2B ini si perusahaan akan jarang untuk berhubungan langsung dengan para retail buyer.

Sampai sini sudah faham kan? Atau masih ada yang kurang jelas? Kalau sudah faham kita lanjut yaa. Kenapa memangnya kok sampai dibedakan antara B2C dengan B2B?

Karena cara penentuan harganya pun akan berbeda. Saya berikan contoh dulu untuk yang B2C.

CONTOH KASUS PENENTUAN HARGA JUAL DI B2C DAN B2B

cara menghitung harga jual
cara menghitung harga jual

Metode paling mudah untuk memberikan suatu ilmu adalah dengan contoh, maka dari itu hal ini lah yang akan saya lakukan.

Dari contoh ini akan saya bagi menjadi 2 hal, yaitu menjadi B2C dan B2B.

Langkah awalnya adalah kita harus memetakan bisnis, mencari harga pokok produksi dan mendata pengeluaran kita.

Contoh saja misalkan saya berjualan meja dengan data seperti ini:

  • Harga bahan: Rp 50.000 per meja
  • Listrik: Rp 3.000.0000,- per bulan
  • Operasional lain-lain (air, atk, rumah tangga): Rp 3.000.000,- per bulan
  • Sewa tempat: Rp 36.000.000,- per tahun
  • Set-up tempat (renovasi dan mesin): Rp 120.000.000,- dibagi ke 2 tahun
  • Gaji 5 orang karyawan: Rp 15.000.000,- per bulan
  • Kapasitas produksi: 1.000 Pcs per bulan

Dari sini saja kita sudah bisa sedikit mengira berapa kira-kira harga jual yang akan terbentuk. Sekarang akan kita konversikan semua harga itu ke per meja, untuk memudahkan penghitungan biaya.

Cara menghitungnya adalah kita jadikan semua biaya tadi kedalam biaya perbulan. Lalu kita bagikan dengan kapasitas produksi, kurang lebih contohnya seperti ini:

  • Harga bahan: Rp 50.000,- per meja
  • Listrik: (3.000.000 : 1.000 pcs) = Rp 3.000,- per meja
  • Operasional lain-lain: (3.000.000 : 1.000 pcs) = Rp 3.000,- per meja
  • Sewa tempat: (36.000.000 : 12 bulan : 1.000 pcs) = Rp 3.000,- per meja
  • Set-up tempat: (120.000.000 : 24 : 1.000 pcs) = Rp 5.000,- per meja
  • Gaji: (15.000.000 : 1.000) = Rp 15.000,- per meja
  • TOTAL Harga Pokok Produksi (HPP): Rp 79.000,- per meja

Naah sekarang coba itu produk di bisnis milik kalian.

Terus Gimana Cara Menentukan Harga Jual Berdasarkan Biaya Produksi?

Oke sekarang kita tahu bahwa harga pokok produksinya adalah 79.000 per pcsnya, apakah kita langsung menghitung harga jual? TENTU TIDAK, karena kita masih akan memasukkan faktor lain dan membedakan untuk harga jual B2C dan B2B.

Kenapa saya bedakan antara B2C dan B2B? Karena rumus dasar hpp mereka berbeda, prosentasa HPP sebagai penyusun harga jual mereka itu berbeda, maka dari itu harus dibedakan dari awal.

Sekarang kita akan lihat prosentase dasarnya.

  • Prosentase HPP pada bisnis B2C adalah 50%-70%
  • Prosentase HPP pada bisnis B2B adalah 30%-50%

Setelah mengetahui prosentase HPP sebagai penyusun harga jual, akan kita tambahkan faktor biaya marketing.

Berapakah biaya marketing itu?

Biaya marketing untuk B2C adalah 20% dari OMZET / Harga Jual

Biaya marketing untuk B2B adalah 10% dari OMZET / Harga Jual

Lalu setelah mengetahui rumus biaya marketing barulah kita tambahkan semuanya.

Saya mulai dari bisnis dengan model B2C yaa.

Cara Menentukan Harga Jual Pada Retail atau Ecer (B2C)

cara menentukan harga jual eceran online shop
cara menentukan harga jual eceran online shop

Di B2C ini profit akan terlihat lebih sedikit daripada B2B, tapi perhitungannya memang sudah seperti ini. Dan ini adalah aman.

  • Harga pokok produksi (HPP): Rp 79.000,- (kita asumsikan ini adalah 50% dari harga jual)
  • Maka HARGA JUAL terbentuk menjadi: Rp 158.000,- (ini adalah 100%)
  • Biaya marketing: Rp 31.600,- (ini adalah 20% dari harga jual)

Karena tersisa 30% dari harga jual, maka PROFIT kita adalah senilai 30% dari harga jual tadi, atau sekitar 47.400 rupiah.

Jika pun kalian ingin memberikan promosi berupa diskon atau free ongkir, bisa dimasukkan ke beban biaya marketing.

Jadi kalau dihitung per bulannya kalian bisa mendapatkan omzet sebesar 158.000.000 dengan profit sebesar 47.400.000 per bulannya :D.

Bagaimana penjelasannya di B2C ini? sudah cukup jelas? Mari kita masuk ke B2B.

Cara Menentukan Harga Jual Pada Grosir atau Reseller (B2B)

cara menentukan harga jual grosir reseller
cara menentukan harga jual grosir reseller

Di B2B profitnya akan terlihat sedikit lebih besar, padahal yaa biasa saja.

Pada dasarnya ada beberapa metode dan pendekatan untuk menetapkan harga jual yang benar. Saya akan bagikan salah satunya disini.

  • Harga pokok produksi (HPP): Rp 79.000,- (kita asumsikan ini adalah 30% dari harga jual)
  • Maka HARGA JUAL terbentuk menjadi: Rp 263.000,- (ini adalah 100%)
  • Biaya marketing: Rp 26.300,- (ini adalah 10% dari harga jual)

Uniknya di model grosir atau kemitraan seperti reseller, dropshipper, distributor ini, kita tidak langsung menghitung profit. Tapi kita hitung juga diskon yang mungkin kita berikan ke partner bisnis kita.

Misalkan saya memiliki jaringan kemitraan seperti reseller furniture, dan saya memberikan diskon sebesar 40%.

  • Harga jual retail: Rp 263.000,-
  • Diskon yang kita berikan: Rp 105.200,- (ini adalah diskon ke reseller sebesar 40%)
  • Harga jual ke reseller: Rp 157.800,-
  • HPP: Rp 79.000,-
  • Biaya marketing: Rp 26.300,-

Maka PROFIT yang terbentuk adalah (263.000 – 105.200 – 79.000 – 26.300 = Rp 52.700,-). Begitulah model bisnis di B2B atau grosir.

Biaya marketing yang kita tetapkan lebih kecil dari B2C karena memang yang menjual ke customer kita adalah partner bisnis kita.

Biasanya bisnis dengan model B2B ini akan bermain pada volume yang jauh lebih besar.

Bagaimana penjelasan saya di cara menentukan harga jual berdasarkan biaya produksi ini?

Kalau beberapa masih bingung, its okay, share produk kalian aja di kolom komentar, nanti saya bantu hitungkan harga jualnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *