Alasan Memecat Karyawan Tidak Boleh Asal, Mau Tahu Bagaimana?

  • Whatsapp
alasan memecat karyawan
alasan memecat karyawan

Alasan memecat karyawan itu tidak boleh asal, kita haruslah mencari alasan yang baik, benar, dan tepat. Karena sekali kita asal? Kita akan menangung itu seumur hidup! Kita tidak mau sampai salah memilih alasan kan? Maka dari itu Kakak Iqbal kali ini bakal share tentang gimana sih caranya, beserta tips untuk mencari alasan yang tepat untuk memecat seorang karyawan.

Kenapa Sih Kita Harus Memecat Seorang Karyawan? Apa Pertimbangannya?

Kalo menurut aku sendiri, seorang karyawan itu bisa dan layak dipecat karena 2 hal pada dasarnya, yaitu karena :

  1. Performance (performa/kinerja)
  2. Attitude (sikap/kelakuan)

Kenapa kok dijelasin ini? Karena adakalanya kita harus merenung dulu sebelum melakukan pemberhentian atau pemecatan terhadap seorang karyawan, kalau kata pepatah ada yang mengatakan dalam Bahasa Inggris :

People Change

Kadangkala yang namanya manusia, kita ini memang tempat salah dan lupa. Jangan karena misal sebuah kesalahan kecil, lalu kita harus langsung memberhentikannya. Ada beberapa assessment atau biasa kita sebut dengan penilaian untuk para karyawan. Penilaian ini kita lakukan supaya kita itu bisa menghentikan karyawan dengan objektif, dan bukan subjektif.

Terus Alasan Memecat Karyawan Itu yang Bener Gimanaa?

Okeee okee, mari kita kembali ke topik ya? Kayanya sudah melantur terlalu jauh, haha. Jadi ada 2 hal paling dasar untuk kita memecat seorang karyawan, yang pertama kita mulai dari Performance.

1. Memecat Seorang Karyawan Karena Tidak PERFORM

Naah, yang pertama ini adalah alasan paling logis dan masuk akal daripada banyak alasan pemecatan, yaitu performance atau biasa kita sebut dengan performa. Masih ada yang nggak tahu apa itu performa?? Okee bakal tak jelasin dengan singkat.

Performa itu adalah kinerja dalam bahasa yang lebih familiar, jadi kita mengukur seorang karyawan karena kinerja yang “kurang baik“. Kurang baik ini bisa diartikan menjadi banyak hal, tergantung perusahaan yang menaungi karyawan tersebut bekerja.

Istilah kurang baik dalam bab performa ini berarti antara GOAL dan REALITY dari karyawan tersebut belum tercapai. Jadi terdapat jarak yang cukup jauh untuk dicapai dari tujuan yang telah ditetapkan perusahaan, dengan performa kinerja si karyawan tersebut.

Masih belum faham?? Okee oke, mari kita langsung ke contohnya aja yaa..

Contoh alasan memecat karyawan :

Jadi misalkan ada sebuah perusahaan penulisan artikel misalkan. Perusahaan tersebut memiliki banyak cabang pekerjaan seperti ada penulis artikel, admin sosial media, akunting, dan sebagainya. Oke, kita ambil salah satu contoh di bagian penulis artikel. Penulis artikel itu memiliki target minimal dia bisa mencapai 20 artikel per hari, dengan toleransi bawah sekitar 2 artikel. Berarti bisa kita bisa mengartikan seperti ini

TARGET : 18-20 Artikel per Hari

Sekarang kita akan lihat dari sisi penulisnya. Di perusahaan tersebut ada sekitar 20 penulis, yang mana hampir setiap masing-masing dari mereka bisa mencapai target itu. Tapi ada 2 orang yang tidak mencapai target itu. 1 orang lainnya sebut saja si A, dia hanya bisa menulis di angka 15-17 artikel per hari.

Sedangkan 1 orang lainnya bernama si B, hanya bisa menulis di angka 8 artikel per hari.Kita sudah bisa lihat di 2 orang yang sama-sama tidak mencapai target ini. Tapi salah satunya memiliki jarak yang terlalu jauh dari target, yaitu si B. Saat dia hanya bisa menacapai di angka 8 artikel per hari, sedangkan targetnya ada 20 artikel. Bahkan setengah dari targetnya pun tidak tercapai, maka dari itu bisa dituliskan begini

REALITA : 8-10 Artikel per hari (50%)

Dari contoh diatas itu kita dapat menyimpulkan bahwa ada 2 diantara 20 karyawan yang tidak mencapai target. Tapi kita bisa tahu dari 2 orang itu (si A dan si B), mana yang kira-kira harus mendapatkan peringatan.

Nanti setelah mendapatkan peringatan kesekian untuk performa si karyawan B tadi, barulah dia bisa di PHK atau di pecat.

2.  Memecat Seorang Karyawan Karena Memiliki ATTITUDE Buruk

Naah yang kedua ini yang seharusnya paling menjadi pertimbangan bagi seorang atasan/boss sebuah perusahaan untuk melakukan pemecatan. Karena konsepnya begini, saya jelaskan sedikit;

Jika seseorang itu memiliki performance yang buruk, tapi attitudenya baik, maka sebenarnya dia bisa jadi di pertahankan. Karena membuat seorang karyawan itu tidak bisa ke bisa dari sisi performa, itu cukup mudah.

Tapi jika seseorang dari awal sudah memiliki attitude yang buruk, maka sudah selayaknya dia tidak perlu berada di perusahaan kita. Kita sudah tidak usah mempedulikan lagi terkait performanya, karena mau dia bekerja dengan bagus, dengan cepat, dengan hebat, tapi kalau sudah menyangkut attitude, selesai sudah.

Jadi Jangan Pernah Kita Memecat Seorang Karyawan Karena Alasan Hati

pecat pegawai dengan baik
pecat pegawai dengan baik

Naah kesimpulan dari beberapa hal yang barusan saya adalah bahwa saat kita akan memecat seorang karyawan, temukan alasan yang benar. Jangan sampai kita membawa hati atau perasaan kita saat mencari alasan.

Contoh saja misal kita benci karena suatu hal terhadap seorang karyawan, lalu kita mencoba untuk mengorek/mencari kesalahan mereka. Akhirnya muncullah banyak alasan yang tidak masuk akal, alasan yang remeh untuk memecat seorang karyawan.

Cobalah untuk bersikap profesional saat berhadapan dengan urusan seperti ini, tinggalkan urusan pribadi jangan bawa ke kantor. Seringkali kita merasa marah mungkin, dengki, atau iri terhadap seorang karyawan, lalu kita mencoba menggali masalahnya dia. Percayalah bahwa saat kita menggali, kita pasti akan menemukan suatu kekurangan dia. Tapi apakah itu cara yang benar?

Atau misal kita benci pada seseorang, lalu kita sebagai atasan mencoba membuat Target yang Tidak Masuk Akal. Tuh kan, kita melakukan hal yang subjektif pada akhirnya. Memang sih pada akhirnya kita bisa mengeluarkan si karyawan dengan sebuah alasan. Tapi sekali lagi, apakah itu cara yang benar

Tentu tidak kan? Pada akhirnya yang akan kita rasakan saat dia sudah keluar adalah rasa sesal, kita menyesal bahwa kita tidak berbicara baik-baik. Kita tidak berbicara jujur pada sang karyawan tadi.

Jadi misal kita ada urusan yang harus selesai dengan mendesak di sebuah perusahaan, misalakan kita akan melakukan EFISIENSI atau PERAMPINGAN, kita cukup berbicara dengan jujur di depan semua karyawan. Jangan sampai kita membuat-buat alasan memecat karyawan dengan asal. Juga hal-hal mengenai pemecatan karyawan itu dibahas dalam undang-undang ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003, jadi jangan main-main.

Kasihan kan pada akhirnya? Karena karyawan yang keluar tadi pastinya juga memiliki keluarga yang menunggu saat dia pulang, punya kerabat untuk hidup bersama, punya orangtua sebagai kewajiban.

Maka dari itu yuk mari kita mulai berfikir dengan rasional, jangan sampai salah bertindak karena kita belum bisa mengendalikan hati, OK?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *